Senin, 13 April 2015

ALAT UKUR SEDERHANA FISIKA FKIP UNTAD

TEMAN - TEMAN BISA MENAMBAH ILMU DARI PENGGUNAAN ALAT - ALAT YANG SEDERHANA UNTUK MELAKUKAN PRAKTEKK,..



ALAT UKUR KALOR JENIS BENDA PADAT
A.      Latar Belakang
Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang
menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor
berbeda dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas.
Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun
dilepaskan oleh suatu benda. Dari sisi sejarah kalor merupakan asal kata caloric
ditemukan oleh ahli kimia perancis yang bernama Antonnie laurent lavoiser (1743
– 1794). Kalor memiliki satuan Kalori (kal) dan Kilokalori (Kkal). 1 Kal sama
dengan jumlah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air naik 1
derajat celcius (Akbar, 2010).
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat.
Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda
yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor
yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya
rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Dari hasil percobaan yang sering
dilakukan besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat) bergantung
pada 3 faktor yaitu massa zat, jenis zat (kalor jenis), perubahan suhu (Purnomo,
2008)

B.       TUJUAN
1.      Memahami asas-asas mengenai perpindahan kalor.
2.      Memahami teori hantar kalor.
3.      Menjelaskan pengertian kalor jenis.
4.      Menjabarkan rumus untuk menentukan kalor jenis benda padat.
5.      Menentukan kalor jenis benda padat.



C.       ALAT & BAHAN
1.      arang 
2.      kalorimeter  buatan                                         
3.      Batu bata 3 buah                                              
4.      Termometer 1 buah
5.      Batang kuningan 1 buah
6.      Korek api / korek gas
7.      Seng
8.      Tissu
9.      Air
10.  Kaleng 1 buah
11.  Kayu
12.  Statif dan klem
13.  Neraca digital 1 bauh
14.  kawat


D.      PROSEDUR KERJA
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan.
2.      Mengukur suhu awal  kalorimeter menggunakan termometer.
3.      Menimbang  kaleng, pengaduk dan kuningan dengan menggunakan neraca digital.
4.      Menimbang massa air, kemudian Mengisi air ke dalam kaleng yang di dalamnya terdapat kuningan sampai kuningan tenggelam setengah..
5.      Memanaskan  kaleng berisi air menggunakan karbon hingga air mendidih.
6.      Mengukur suhu kuningan dengan termometer yang sementara di panasakan menggunakan kaleng.
7.      Memindahkan kuningan pada kaleng yang berisi air
8.      Mengaduk kuningan pada kaleng menggunakan pengaduk.
9.      Mengukur suhu air pada kaleng setelah mencapai kesetimbangan.
10.  Mencatat hasil pengamatan dalam tabel hasil pengamatan.
E.       Prinsip Kerja
Panas jenis air jauh lebih besar dari pada panas jenis zat lain. Sebagai contoh, panas jenis air sepuluh kali lebih besar dari pada panas jenis aluminium.Karena kapasitas panasnya yang sangat besar, air adalah bahan yang baik sekali untuk menyimpan energi termis, seperti misalnya dalam sistem pemanasan solar/matahari. Air juga merupakan pendingin yang baik. Air dalamjumlah  banyak, seperti danau atau lautan, cenderung membuat variasi temperatur tidak berlebihan didekatnya karena air dapat menyerap atau melepas energi termis dalam jumlah yang besar sementara mengalami perubahan tenperatur sangat kecil.
            Karena panas jenis air praktis konstan meliputi jangkauan temperatur yang lebar, panas jenis sebuah benda dengan mudahdapat diukur dengan memanaskan benda sampai suatu temperatur tertentu yangmudah diukur, dengan menempatkanya dalam bejana air yang massa dan temperaturnya diketahui, dan dengan mengukur temperatur kesetimbangan akhir. Jika seluruh sistem terisolasi dari sekitarnya maka panas yang keluar dari benda sama dengan panas yang masuk ke ai dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri, dan wadah air yang terisolasi dinamakan kalorimeter
(Tipler, 1998).
Tidak ada usaha dikerjakan oleh sistem atau lingkungan. Sebagai
akibatnya perubahan suhu lingkungan (air) hanyalah karena kalor yang
dipertukarkan antara air dan sistem. Perubahan suhu ini diukur dengan sebuah
termometer, dan kalor yang dipertukarkan dihitung dari massa dan kalor jenis air
yang diketahui. Dari kekekalan tenaga, kalor yang diperoleh oleh sistem adalah
harga negatif dari kalor yang hilang dari lingkungan dan sebaliknya. Dengan
demikian kalorimeter mengukur kalor yang dipertukarkan oleh sistem dibawah
syarat-syarat tertentu (Cromer, 1994)




F.     Dasar Teori
 Kalor adalah suatu energi yang mudah di terima maupun dilepaskan sehingga dapa mengubah temperatur zat tersebut menjadi naik dan turun. Kalor jenis adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur dari 1 gr massa bahan sebesar 1 oC.
Kalori meter adalah alat untuk mengukur kalor jenis suatu zat. Salah satu bentuk kalori meter adalah kalori meter campuran. Kalori meter ini terdiri dari sebuah bejana logam yang kalor jenisnya diketahui. Bejana ini biasanya ditempatkan didalam bejana lain yang agak lebih besar.kedua bejana dipisahkan oleh bahan penyekat misalkan gabus atau wol. Kegunaan bejana luar adalah sebagai isolator agar perukaran kalor dengan sekitar kalori meter dapat dikurangi.
Kalori meter juga dilengkapi dengan batang pengaduk. Pada waktu zat dicampurkan didalam kalori meter, air dalam kalori meter perlu diaduk agar diperoleh suhu merata sebagai akibat percampuran dua zat yang suhunya berbeda. Asas penggunaan kalori meter adalah asas black. Setiap dua benda atau lebih dengan suhu berbeda dicampurkan maka benda yang bersuhu lebih tinggi akan melepaskan kalornya, sedangkan benda yang bersuhu lebih rendah akan menyerap kalor hingga mencapai keseim- bangan yaitu suhunya sama. Pelepasan dan penyerapan kalor ini besarnya harus imbang. Kalor yang dilepaskan sama dengan kalor yang diserap sehingga berlaku hukum kekekalan energi. Pada sistem tertutup, kekekalan energi panas (kalor) ini dapat dituliskan sebagai berikut.
Qlepas = Qterima
Dengan Q = m . c . ∆t
dengan:
= banyaknya kalor yang diperlukan (J)
= massa suatu zat yang d iberi kalor (kg)
= kalor jenis zat (J/kgoC)
∆t = kenaikan/perubahan suhu zat (oC)
= kapasitas kalor suatu zat (J/oC)
Pertukaran energi kalor merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama kalorimetri, yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Untuk melakukan pengukuran kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu zat digunakan kalorimeter. Salah satu kegunaan yang penting dari kalorimeter adalah dalam penentuan kalor jenis suatu zat. Pada teknik yang dikenal sebagai “metode campuran”, satu sampel zat dipanaskan sampai temperatur tinggi yang diukur dengan akurat, dan dengan cepat ditempatkan pada air dingin kalorimeter. Kalor yang hilang pada sampel tersebut akan diterima oleh air dan kalorimeter. Dengan mengukur suhu akhir campuran tersebut, maka dapat dihitung kalor jenis zat tersebut.
Zat yang ditentukan kalor jenisnya dipanasi sampai suhu tertentu. Dengan cepat zat itu dimasukkan kedalam kalori meter yang berisi air dengan suhu dan massanya sudah diketahui. Kalori meter diaduk sampai suhunya tidak berubah lagi. Dengan menggunakan hukum kekekalan energy, kalor jenis yang dimasukkan dapat dihitung.
            Sistem kerja kalorimeter dengan menggunakan teknik pencampuran dua zat didalam suatu wadah, kalorimeter umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Adapun beberapa jenis kalorimeter yang sering dipakai antara lain: kalorimeter alumunium, elektrik, gas dan kalorimeter bom.                              .
            Suatu benda yang mempunyai suhu lebih tinggi dari fluida bila dicelupkan kedalam fluida, maka benda tersebut akan melepaskan kalor yang akan diserap oleh fluida hingga tercapai keadaan seimbang (suhu benda = suhu fluida).                                          .
            Fenomena diatas sesuai dengan azas black yang menyatakan bahwa jumlah kalor yang dilepaskan oleh benda sama dengan jumlah kalor yang diserap fluida. Pada praktikum kali ini akan diukur panas jenis benda padat berupa logam dengan menggunakan kalorimeter. mula-mula benda dapat dipanaskan dalam gelas kimia sehingga diasumsikan bahwa tempratur benda sama dengan tempratur uap sehingga diasumsikan bahwa temperatur benda sama dengan temperatur uap. titk didih air tergantung pada tekanan udara dan kemudian menentukan titik didih air berdasarkan tabel yang ada.                                      .
Rumus menghitung massa jenis benda padat dapat dihitung menggunakan persamaan :
mb . Cb . ( tb-t2 ) = ( ma . Ca + H ) ( t2 - t1 )

Dimana :
 mb = massa benda
 Cb = panas jenis benda
 tb = temperatur benda mula-mula (setelah dipanaskan)
 t1 = temperatur air mula-mula
 t2 = temperatur kalorimeter saat keadaan seimbang
 ma = massa air
H = harga air kalorimeter
            Bila dua benda berbeda suhunya bersentuhan, maka kalor dari benda yang suhunya lebih tinggi akan berpindah ke benda yang suhunya lebih rendah, sehingga suhu kedua benda sama. Menurut asas Black banyaknya kalor yang diberikan sama dengan kalor yang diterima. Benda padat yang suhunya tb dimasukan ke dalam kalorimeter yang berisi air yang suhunya tr, setelah beberapa lama suhu campuran menjadi tc. Menurut asas Black, banyaknya kalor yang diberikan oleh benda padat dan banyaknya panas yang diterima oleh air dan kalorimeter serta thermometer adalah sama.
Gb.Cb.(tb-tc) = {(Gk.Ck) + (Ga.Ca) + K}(tc – tr)
                                      {(Gk x Ck) + (Ga x Ca) + K)} (tc – tr)
                           Cb = Gb (tb – tc)
Dimana :
Gb     = massa benda padat
Cb     = panas jenis benda padat
Gk     = massa kalorimeter dan pengaduk
Ck     = panas jenis kalorimeter dan pengaduk = 0,107 kalori/gram ˚C
Ga     = massa air dalam kalorimeter
Ca     = panas jenis air = 1
K      = harga air dari thermometer yang tercelup dalam air = 0,46 kalori/˚C
Bila suhu kalorimeter tidak berbeda jauh dengan suhu udara sekelilingnya, maka pengaruh suhu sekeliling itu menurut Newton adalah :
dt = -K (tc-tr) . T
dimana :
dt      = koreksi kenaikan suhu karena pengaruh udara sekeliling
K      = konstanta pertukaran kalor
tr       = suhu ruangan
tc      = suhu rata-rata
T       = lama percobaan (dalam detik)
            Bila kita memanaskan air dan suhunya kita ukur dengan thermometer, ternyata suhu air itu akan naik. Makin lama air itu kita panaskan makin banyak pula kalor yang diterima air, sementara itu suhu air semakin tinggi.
            Kalor diartikan sebagai banyaknya energi yang diberikan pada benda, sedangkan suhu ialah derajat panas-dingin suatu benda. Perubahan suhu suatu benda merupakan akibat adanya kalor yang diterima atau dilepaskan benda itu. Benda yang suhunya naik dikatakan menerima kalor, sedangkan benda yang suhunya turun dikatakan melepaskan kalor, Makin tinggi kenaikan suhu suatu benda berarti makin banyak pula kalor yang diterima benda itu dan bila penurunan suhu suatu benda besar, besar pula kalor yang dilepaskan benda itu. Berdasarkan perubahan suhu pada suatu benda, dapat ditentukan jumlah kalor yang diterima atau yang dilepaskan benda itu. Sebagai patokan atau standar pengukuran kalor ialah kenaikan suhu pada air murni. Bila kita memanaskan air yang massanya berbeda dengan menggunakan api pemanas yang sama dalam waktu yang sama, akan menimbulkan kenaikan suhu yang berbeda. Air yang massanya lebih banyak, kenaikan suhunya lebih rendah padahal jumlah kalor yang diserapnya sama. Agar kenaikan suhu air yang massanya lebih besar sama dengan air yang massanya lebih kecil, maka pemanasannya harus lebih lama, berarti kalor yang diserapnya harus lebih banyak pula. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyaknya kalor yang diterima suatu benda dapat ditentukan berdasarkan massa benda dan kenaikan suhu benda itu.
Kalorimetri adalah proses pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia dalam suatu eksperimen.  Data ΔH reaksi yang terdapat pada tabel-tabel umumnya ditentukan secara kalorimetri.Kalorimetri yang sederhana ialah poses mengukur perubahan suhu dari sejumlah air atau larutan sebagai akibat dari suatu reaksi kimia dalam suatu wadah terisolasi.
            Kalorimeter adalah alat untuk menentukan kalor jenis tipis yang dimasukkan dalam bejana tembaga yang lebih besar. Pada alasanya diberi ganjalan beberapa potong gabus. Pada prinsipnya, antara bejana kecil (dinding dalam) dengan bejana besar (dinding luar) dibatasi oleh bahan yang tidak dapat dialiri kalor (adiabatic). Kemudian, diberi tutup yang mempunyai dua lubang untuk memasukkan / tempat thermometer dan pengaduk.                                    .
            Pengukuran kalor jenis dengan calorimeter didasarkan pada asas Black, yaitu kalor yang diterima oleh calorimeter sama dengan kalor yang diberikan oleh zat yang dicari kalor jenisnya. Hal ini mengandung pengertian jika dua benda yang berbeda suhunya saling bersentuhan, maka akan menuju kesetimbangan termodinamika. Suhu akhir kedua.







G.    Laporan
Hasil pengamatan pada percobaan yang telah di lakukan di lab pada praktikum adalah :
T1 :        °C
T2 :      °C
Tb :      °C
Massa kalorimeter  :             gram
Masssa pengaduk    :             gram
Massa kuningan      :             gram
Massa gelas kimia  :              gram
Massa air                :               gram
Cp dan Ck                       : 0.21
NST neraca digital  :               gram
NST termometer     : 1 °C

H.    Analisa data
Dengan menggunakan rumus :
mb . Cb . ( tb-t2 ) = ( m3 + mkck + mpcp  ) ( t2 - t1 )
c b = ( m3 + mkck + mpcp  ) ( t2 - t1 )  /  mb  ( tb-t2 )
      =         + (              ) (            ) + (           ) (            ) (          )  /  (      -     )
      =
      =        






I.   Kesimpulan
            Alat yang kami buat masih banyak memiliki kekurangan sehingga massa jenis kuningan yg di ukur jika menggunakan kalori meter yg sesungguhnya berbeda dengan apa yang kami buat.
Adapun perbedaan yg timbul ini disebabkan oleh jenis bahan kalorimeter yang di buat dan faktor titik didih yang berbeda disetiap tempat. Sehingga alat yang kami buat tidak memiliki ketelitian yang sempurna..























PERTANYAAN.
1.      Mengapa pada percobaan anda hanya menggunkan ½ air,  mengapa tidak  penuh atau rata dengan balok kuningan serta apa hubungannya hukum asas-asas dan teori hantar kalor pada percobaan anda. ??
jawab :
Pertama hanya menggunakan setengah air supaya air cepat mendidih dan tidak memakan waktu yang lama untuk memanaskan air.
Kedua, kenapa balok kuningan hanya direndam setengahnya hal ini di sebabkan oleh kita hanya mengukur suhu awal besi murni ketika di rendam. Sementara jika besi di rendam seluruhnya maka suhu yang di peroleh sudah tidak murni lagi sebab tercampur oleh panas air.
Ketiga, Bila dua benda berbeda suhunya bersentuhan, maka kalor dari benda yang suhunya lebih tinggi akan berpindah ke benda yang suhunya lebih rendah, sehingga suhu kedua benda sama. Menurut asas Black banyaknya kalor yang diberikan sama dengan kalor yang diterima. Benda padat yang suhunya tb dimasukan ke dalam kalorimeter yang berisi air yang suhunya tr, setelah beberapa lama suhu campuran menjadi tc. Menurut asas Black, banyaknya kalor yang diberikan oleh benda padat dan banyaknya panas yang diterima oleh air dan kalorimeter serta thermometer adalah sama.
Pengukuran kalor jenis dengan calorimeter didasarkan pada asas Black, yaitu kalor yang diterima oleh calorimeter sama dengan kalor yang diberikan oleh zat yang dicari kalor jenisnya. Hal ini mengandung pengertian jika dua benda yang berbeda suhunya saling bersentuhan, maka akan menuju kesetimbangan termodinamika. Suhu akhir kedua.




2.      Apa kelebihan dan kekurangan alat yang dibuat dengan alat yang sebenarnya.?
Jawab :
Kelebihan : alat dan bahan yang di gunakan hampir semuanya menggunakan bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan dan sudah tidak terpakai. Seperti kaleng bekas, arang, air, dan sendok serta besi.
Kekurangannya ketelitian alat belum sempurna dan dalam menggunakan alat ini di butuhkan waktu yang lebih lama di bandingkan kalorimeter sesungguhnya.

3.      penggunaan tungku dan apakah air harus mendidih sampai 100o c ?
Jawab :
tungku di gunakan dengan tujuan memanfaatkan arang yang ada dan jika pun di beli harganya sangat ekonomis..
Pada percobaan yang kami lakukan kami tidak memakai aturan
Air  harus mendidih sampai 100o c karena titik didih air di setiap tempat itu berbeda..



Selasa, 31 Maret 2015

SELAMAT DATANG DI BLOGGER FISIKA

saya akan membagikan ilmu untuk teman - teman fisika dalam memperdalam elektro dasar tentang penguat operasional...


PENGUAT DASAR OPERASIONAL

A.    TUJUAN
Untuk mengetehui:
1.      Pengertian & sejarah OP-AMP
2.      Karakteristik ideal  OP-AMP
3.      Perbandingan ( komparator )
4.      Pengintegralan OP-AMP
5.      Pendiferensialan OP-AMP
6.      Penguat menggunakan OP-AMP
7.      Ap-Amp IC

B.     PEMBAHASAN

1.      Pengertian & sejarah OP-AMP
 Operational Amplifier atau di singkat op-amp merupakan salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian inverter, non-inverter, integrator dan differensiator.
Penguat operasional merupakan penguat masuk differensial berperolehan tinggi gandeng langsung. Istilah penguat operasional pertama kali digunakan oleh penguat dc (arus searah) yang membentuk operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, integrasi dan differensiasi dalam komputer analog. Di samping itu, OP AMP digunakan pula dalam pengatur tegangan, filter aktif, instrumentasi, pengubah analog ke digital dan digital ke analog, dan banyak penggunaan lain.
Awal dari penggunaan penguat operasional adalah tahun 1940-an, ketika sirkuit elektronika dasar dibuat dengan menggunakan tabung vakum untuk melakukan operasi matematika seperti penjumlahan,pengurangan,perkalian,pembagian,integral dan turunan. Istilah penguat operasional itu sendiri baru digunakan pertama kali oleh John Ragazzini dan kawan-kawan dalam sebuah karya tulis yang dipublikasikan pada tahun 1947, Kutipan bersejarah dalam karya tulis tersebut adalah:
"As an amplifier so connected can perform the mathematical operations of arithmetic and calculus on the voltages applied to its inputs, it is hereafter termed an operational amplifier." (Ragazzini, et.al, 1947) (dalam bahasa indonesia: "Oleh karena penguat dapat dihubungkan untuk melakukan operasi matematika dan kalkulus terhadap tegangan yang dikenakan terhadap masukannya, maka digunakan istilah penguat operasional.")

2.      Karakteristik ideal  OP-AMP
Penguat operasional banyak digunakan dalam berbagai aplikasi karena beberapa keunggulan yang dimilikinya, seperti penguatan yang tinggi, impedansi masukan yang tinggi, impedansi keluaran yang rendah dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah karakteristik dari Op Amp ideal:
¨ Penguatan tegangan lingkar terbuka (open-loop voltage gain) AVOL = -¥
       Penguatan tegangan lingkar terbuka (open loop voltage gain) adalah penguatan diferensial Op Amp pada kondisi dimana tidak terdapat umpan balik (feedback) yang diterapkan padanya

¨ Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) VOO = 0
      Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) VOO adalah harga tegangan keluaran dari Op Amp terhadap tanah (ground) pada kondisi tegangan masukan Vid = 0
¨ Hambatan masukan (input resistance) RI = ¥
      Hambatan masukan (input resistance) Ri dari Op Amp adalah besar hambatan di antara kedua masukan Op Amp.

¨ Hambatan keluaran (output resistance) RO = 0
      Hambatan Keluaran (output resistance) RO dari Op Amp adalah besarnya hambatan dalam yang timbul pada saat Op Amp bekerja sebagai pembangkit sinyal.
¨ Lebar pita (band width) BW = ¥
     Lebar pita (band width) BW dari Op Amp adalah lebar frekuensi tertentu dimana tegangan keluaran tidak jatuh lebih dari 0,707 dari harga tegangan maksimum pada saat amplitudo tegangan masukan konstan.
¨ Waktu tanggapan (respon time) = 0 detik
     Waktu tanggapan (respon time) dari Op Amp adalah waktu yang diperlukan oleh keluaran untuk berubah setelah masukan berubah.
¨ Karakteristik tidak berubah dengan suhu
      Sebagai mana diketahui, suatu bahan semikonduktor yang akan berubah karakteristiknya apabila terjadi perubahan suhu yang cukup besar. Pada Op Amp yang ideal, karakteristiknya tidak berubah terhadap perubahan suhu. Tetapi dalam prakteknya, karakteristik sebuah Op Amp pada umumnya sedikit berubah, walaupun pada penerapan biasa, perubahan tersebut dapat diabaikan.

sebuah Op Amp yang baik harus memiliki karakteristik yang mendekati kondisi ideal.

3.      Perbandingan ( komparator )
Komparator (pembanding) merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan bati simpal terbuka penguat operasional yang sangat besar. Ada jenis penguat operasional khusus yang memang difungsikan semata-mata untuk penggunaan ini dan agak berbeda dari penguat operasional lainnya dan umum disebut juga dengan komparator .Komparator membandingkan dua tegangan listrik dan mengubah keluarannya untuk menunjukkan tegangan mana yang lebih tinggi.

4.      Pengintegralan OP-AMP
5.      Pendiferensialan OP-AMP
      Penguat diferensial adalah suatu penguat yang bekerja dengan memperkuat sinyal yang merupakan selisih dari kedua masukannya. Berikut ini adalah gambar skema dari penguat diferensial sederhana:



6.      Penguat aperasional
Penguat operasional (Op Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah dijelaskan di atas. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga negatif (-V) terhadap tanah (ground). Berikut ini adalah simbol dari penguat operasional:
7.      AP-AMP IC


C.    KESIMPULAN
D.    DAFTAR PUSTAKA

Adi Endarta.http//www.google Elektronika,kewirausahaan dan pendidikan OP-AMP.com (diakses pada kamis 29 januari 2015 pkl 08.00)

Serodja Ryan. http//www.google karakteristik ideal OP-AMP.com ( diakses pada kamis 29 januari 2015 pkl 08.10)

Stemzi Dodixz. http//www.google Op-Amp.com (di akses pada kamis 29 januari 2015 pkl 08.15)